Masjid Agung Agung Keraton Surakarta Hadiningrat telah dipugar pada akhir tahun 2024 silam. Kini Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat tampil makin menawan untuk tempat sholat para wisatawan. Masjid yang berlokasi di Jalan Masjid Agung No. 1, Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta ini didirikan di wilayah Alun-Alun Utara sebagai satu kesatuan dengan Keraton Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono III tahun 1749.

Bangunan ini kemudian mengalami beberapa tahap pengembangan pembangunan mulai dari penambahan kubah pada masa Pakubuwono I, pembangunan menara dan jam matahari pada Pakubuwono X, serta perluasan serambi termasuk kolam pada masa Pakubuwono XIII. Arsitektur masjid mencerminkan akulturasi Jawa Islam yang dapat terlihat dari atap dan penggunaan kayu jati dan struktur khas Jawa yang melekat.
Konstruksi tiang dan atap tajug berbahan kayu jati merupakan simbol kesempurnaan spiritual dalam tradisi Jawa. Menara setinggi kurang lebih 33 meter terinspirasi dari arsitektur India dan dibangun tahun 1928 untuk mengumandangkan azan. Pintu gerbangasjid juga mengalami transformasi dari gapura beratap limasan diganti gapura bercorak Timur Tengah yang terdiri dari tiga pintu paling luas dan dua pintu samping lebih kecil. Penambahan terakhir dilakukan oleh pemerintah Surakarta yakni perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.
Dulunya pengurus masjid ini merupakan anggota abdi dalem keraton. Pengurusnya pun harus menempuh pendidikan di Madrasah Mam Ba’ul ’Ulum yang terletak diantara masjid dengan Pasar Klewer. Dewasa ini hanya kepala pengurus masjid yang menjadi abdi dalem keraton dengan gelar Tafsir Anom. Sampai saat ini, Masjid Agung Keraton Surakarta masjid masih menjadi pusat tradisi Islam serta menjadi tempat beribadah dan melangsungkan tradisi seperti sekaten maupun maulud nabi. Masjid ini merupakan simbol identitas budaya dan spiritual yang patut dilestarikan.