Keris merupakan warisan penting khsusunya bagi masyarakat Jawa. Di Jawa khususnya Solo dan Yogyakarta keris berkembang dengan cirikhas masing-masing baik bilah, pamor, hulu maupun warangka. perbedaan ini mencerminkan karakter dan filosofi budaya serempat dan memperkaya khazanah seni tosan aji yang unik dan bernilai tinggi.
Keris Solo yang dikenal memiliki bilah lebih panjang dan tebal dibanding kerits Mataram atau Majapahit. Keris Solo menampilak pamor bergam sepeti wos wutah, pendaringan kebak, ron ganduru, wengko, Raja Rangsa, Kera Welang dan Lar Gangsir. Bilahnya sering menyerupai dauh singkong, angun namun tetap kuat.Hiasan keris biasanya berlian, intan ataupun ukiran emas yang menambah estetika.

Ada empat macam jenis warangka yang berkembang di Solo dan Jogya yaitu warangka model sandhang walikat, penanggalan (wulan tumanggal), ladrang atau branggah dan gayaman. Di Solo, warangka terbagi menjadi dua yakni Ladrang digunakan untuka acara formal dan gayaman untuk kegiatan sehari-hari atau perang. Setiap jenis terbagi lagi menjadi beberapa tipe seperti Ladrang Capu, Ladrang Kagok XCapu, Gayaman Gabel, dan Gayaman Bancik.
alam warangka, terdapat perbedaan antara keris Solo dan Yogyakarta. Di Surakarya perbedaan karakteristik antara keris Solo dan Yogyakarta bisa dilihat dari hulu (pegangan), keris Yogyakarta memiliki hulu lebih kecil dengan garis halus sedangkanSolo lebih besar, tegas dan menonjol. Warangka keris Yogyakarta juga lebih kecil dan sederhana sedangkan Soo lebiih lebar yang kaya ornamen. Perbedaan ini mmencerminkan filosi budaya setiap daerah.
Belajar jenis keris Solo dan Jogja membuat kita lebih paham akan kekayaan budaya jawa bukan sebagai pusaka saja tapi sebagai simbol pengenddalian diri dan perlindungan. Keris mengajarkan nilai luhur yang tetap relevan hingga kini menjadikannya sebagai harta yang patut dilestarikan dan patut diiapresiasi.

Komentar Terbaru