Tentu, bicara wisata di Surakarta dan Soloraya tidak bisa melepaskan dari destinasi ramah keluarga di Sangiran. Situs purbakala yang memiliki limpahan fosil kelas dunia selalu ramai dikunjungi untuk rekreasi awal tahun. Kebiasaan yang mulai trend setelah pandemi berakhir adalah berkunjung ke situs purbakala dan mampir ke kemegahan Kota Wisaya Budaya Surakarta. Kota Surakarta memang telah memiliki hotel, kuliner dan oleh-oleh yang menunggu tiap wisatawan Sangiran.
Sangiran adalah kawasan bersejarah yang terletak 19 Km di utara Kota Surakarta, Jawa Tengah. Wilayah ini dikenal luas sebagai salah satu situs prasejarah terpenting di dunia karena menyimpan jejak kehidupan manusia purba. Pada 6 Desember 1996, UNESCO menetapkan Situs Sangiran sebagai warisan dunia (World Heritage Site) dengan nama “Sangiran Early Man Site”. Pengakuan ini diberikan karena nilai ilmiah dan universalnya yang luar biasa bagi studi evolusi manusia dan perubahan lingkungan prasejarah.

Sangiran mulai terkenal sejak tahun 1930, ketika ditemukan berbagai fosil manusia purba dan alat batu serpih di kawasan tersebut. Dua tokoh yang tak bisa dilepaskan dari ketenaran Sangiran adalah GHR Von Koenigward (ahli paleontologi asal Belanda) dan Toto Marsono (peneliti lokal adal Sangiran). Tahun 1936 Koenigswald menemuka fosil Homo Erectus yang kemudian dikenal dengan Pithecanthropus Erectus. Sementara itu, pada tahun 1975 hasil penelitian fosil dikumpulkan dan dipamerkan secara sederhana di rumah Toto Marsono yang menjadi cikal bakal berdirinya Museum pada tahun 1977.
Dewasa ini, Sangiran dikembangkan menjadi destinasi edukasi, wisata budaya dan penelitian. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba mengelola empat klaster museum yang dapat dikunjungi yaitu Museum Klaster Krikilan (Pusat) berisi koleksi utama fosil manusia purba dan diorama evolusi kehidupan, Klaster Ngebung (menyajikan sejarah penemuan situs Sangiran dan penelitian awal), Klaster Bukuran (evolusi manusia terutama perkembangan fisik Homo Erectus), dan Klaster Dayu (penelitian modern dan hubungan manusia dengan lingkungannya) dan Klaster Manyarejo (memperlihatkan lokasi ekskavasi fosil). Setiap museum buka dari hari Selasa-Minggu dengan harga tiket masuk Rp 15.000 per orang. Pengunjung bisa melihat fosil asli, rekonstruksi manusia purba hingga diorama proses evaluasi manusia.
Mengunjungi Sangiran kita tidak hanya belajar sejarah manusia purba tapi juga refleksi tentang perjalanan panjang kehidupan manusia. Di sini pelajar, peneliti dan wisatawan dapat belajar bagaimana kehidupan manusia berkembang, beradabtasi dan menghadapi perubahan alam selama jutaan tahun. Sangiran merupakan laboratorium alam di mana sejarah, ilmu dan budaya Indonesia berpadu menjadi sebuah warisan untuk generasi mendatang.

Komentar Terbaru